Kamis, 26 Januari 2017

[Review Buku] Mahabharata: Dan, akhirnya tidak pernah ada pemenang dalam suatu perang

Judul: Mahabharata
Penulis: C. Rajagopalachari
Penerbit: IRCiSoD
Penerjemah: Yudhi Murtanto
Editor: Abdul Azis Sukarno
Cetakan ke-6; November 2008; 521 halaman

Blurb

Mahabharata Edisi Asli ini lebih dari sekadar Epik, ini adalah roman, yang menceritakan kisah laki-laki dan perempuan heroik serta beberapa tokoh luar biaasa. Karya ini mengandung seni sastra dalam dirinya sendiri dan rahasia hidup sejati: filsafat sosial dan hubungan etik, serta pemikiran pokok tentang masalah-masalah manusia yang sulit dicari padanannya. Bahkan melebihi segalanya, kisah ini menyimpan inti cerita dalam bhagavad Gita, yang merupakan tulisan sangat tinggi budinya dan hikayat terbesar di mana cerita akan mencapai klimaks dalam kisah perwahyuan yang menakjubkan dalam The Elevent Canto.

Sinopsis

Pandawa, putra Pandu dan Dewi kunti serta Dewi Madri, memutuskan menjalani hukuman yang diberikan oleh Duryudana setelah mereka kalah bermain dadu melawan Sengkuni. Permainan dadu yang telah direncanakan dengan licik oleh pikah kurawa membuat anak-anak Pandu mengalami kekalahan telak. Harta, kerjaan hingga Drupadi, istrinya pun dipertaruhkan dalam permainan tersebut. kan Hingga akhirnya Drupadi dipermalukan, dan dilecehkan di depan semua tetua hastinapura tanpa satu orang pun bisa menolong, bahkan Bhisma yang terkenal bijak, dan adil, hanya terpaku melihat Dursasana melepaskan pakaian Drupadi.

Kebencian itu mereka bawa selama 12 tahun masa pengasingan dan 1 tahun penyamaran. Dan ketika itu semua berakhir, Yudishtira tetap menawarkan perdamaian dan meminta lima desa untuk mereka.

Kesombongan Duryudana melihat Pandawa tidak memiliki satu apa pun hanya mencemooh dan menolak permintaan damai itu. Bahkan bukan hanya sekali, berkali-kali Yudishtira menawarkan perdamaian agar bisa terhindar perang. Bahkan Krishna turut ikut menawarkan perdamaian tersebut.

Sayangnya, kesombongan dan keangkuhan telah menuliskan sendiri takdir kematian yang akan dialami Duryudana dan pengikutnya.


Review

Jujur aja, baca novel ini bikin lelah. Tapi terbayar kok dengan kisah yang ditawarkan, memang kisah epik yang penuh kepahlawanan dan nilai-nilai kebaikan ditawarkan dalam buku ini. Selain itu buku ini terbilang “masuk akal” kecuali abaikan panah yang bisa berubah jadi ular. Masuk akal yang aku maksud sih nilai-nilainya. Tidak semua orang jahat itu selalu berbuat jahat dan tidak selalu orang baik, akan berbuat baik. Pasti ada sisi sedikit saja dalam diri mereka untuk melakukan bertentangan dengan pribadi yang mereka miliki.

Karakter

Yang bikin buku ini tebal adalah karena pengenalan tokoh yang terlibat dalam setiap bab. Misalnya di bab 1 itu tentang pertama kali bhisma lahir. Terus bab selanjutnya dijelaskan gimana perselisihan Amba-Bhisma dan gimana Amba bisa jadi Srikandi. Pokoknya detail-detail pemain yang mendukung Mahabharata ini akan di ulas satu persatu. Dan tokoh pandawa sendiri akan muncul disekitar halaman 50an.

Aku paling suka (aku selalu lupa catat halamannya) ketika ramalan adanya perang besar antara kurawa dan Pandawa, Yudishtira bersumpah akan menjaga ucapan dan kelakukannya, untuk menghindari sakit hati antara dirinya dan orang lain.

Kisah ini menggambarkan betapa rapuhnya rencana manusia, sebaik dan sebijaksana apa pun itu, jika tidak disertai campur tangan Hyang Maha Kuasa. Kebijaksanaan tidak akan ada artinya di hadapan suratan takdir. Jika nasib baik berpihak, kebodohan akan berbalik menjadi keuntungan. – hal 122

Sayangnya sih, justru sifat baik Yudistira-lah yang memicu konflik utama dalam buku ini.

Konflik

Konflik utama dalam buku ini jelas tentang perang besar yang terjadi antara Kurawa dan Pandawa. Akibat dari permainan licik Sengkuni yang menantang Yudishtira bermain dadu. Padahal sudah diperingatkan, permainan judi hanya akan membawa malapetaka. Tapi Yudishtira yang tidak enak menolak undangan Duryudana, sekalian ingin menyenangkan sepupunya tersebut, ia bersedia. Seperti di duga, Yudishtira kalah berkali-kali dan ia menyerahkan semua harta dan kerajaannya. Dan entah bagaimana Yudishtira terpengaruh oleh bujukan Sengkuni untuk mempertaruhkan Drupadi, istrinya. Dan Drupadi mengalami pelecehan, untungnya para Dewa membantunya. Tapi sejak Drupadi dilecehkan, kebencian Pandawa muncul. Kebencian yang mereka tahan selama ini, mempertimbangkan Duryudana adalah saudara mereka, muncul begitu saja.

“Semua orang tahu permainan dadu adalah sumber semua kejahatan.” – Widura : hal 128

Yudishtira sebagai seorang ksatria tidak menolak hukuman dari kalah dadu. Mengasingkan diri selama 13 tahun. Dalam waktu membuat mereka melupakan dendam mereka, tapi tidak Duryudana yang selalu ingin menjatuhkan Pandawa.

Disini, kita bakal di ajak untuk membenci kedengkian Duryudana, hasutan licik Karna dan Sengkuni. Mereka berdua lah dalang dibalik pengobaran kedengkian Duryudana pada kesuksesan Pandawa. Duryudana tidak puas, dan menolak memberikan tanah pada Yudishtira, walaupun hanya sejengkal.

Dan perang tidak terhindar. Karena pihak Kurawa lah yang menginginkan perang. Sedangkan Yudishtira menginginkan damai.

Alur

Aku suka banget sama alurnya yang rapi dan teratur. Tahap ber tahap dari pengenalan karakter, lahirnya kebencian Duryudana pada Pandawa, konflik yang menyebabkan perang, serta masa-masa pengasingan mereka yang di ceritakan sesuai urutan. Meski banyaknya karakter bikin aku bingung, tapi nggak membuat cerita ini berkurang maknanya. Karena tokoh utamanya tetap Pandawa dan Krisna.


Kesimpulan

Di dalam perang, kita akan diajak untuk mengetahui sifat manusia sebenarnya. Menariknya, beberapa adegan dikaitkan dengan masa zaman sekarang. Misalnya saja ketika Pandawa mengirimkan Pembicara untuk membujuk damai, hal itu dikaitkan dengan pemboman Pearl Harbor oleh Jepang. Diceritakan, saat itu sebenarnya pihak Jepang-Amerika sedang membicarakan damai juga.

Lalu ada juga gimana perang itu harus mengikuti dharma, memiliki aturan. Di Mahabharata, saat berperang mereka hanya boleh satu lawan satu dan tidak boleh menusuk dari belakang. Tidak boleh melukai rakyat biasa. Dibandingkan dengan jaman sekarang, dimana perang tidak mengenal korban, baik rakyat biasa, anak-anak maupun perempuan.

Menariknya, Yudishtira yang terkenal bijak dan arif serta tidak pernah berbohong, melakukan sesuatu demi kemenangan mereka. Bahkan Krisna, basudewa yang mereka agungkan, juga memberikan sedikit “tips” licik dalam perang tersebut.

Lihat kan? Betapa nafsu untuk memenangkan perperangan telah mengubah orang sebijak Yudishtira?

Lalu ketika anak Duryudana marah besar, ia membalas kematian ayahnya dengan menyerang pasukan Pandawa saat tengah tertidur, ia menyesal dan menebus kesalahan tersebut dengan mengorbankan dirinya. Lalu ia mendapat tempat di sisi para Dewa karena sifat ksatrianya itu.

Dan disini cerita ini ingin mengajak, orang jahat sekalipun pasti akan berbuat sedikit kebaikan.

Lalu Yudistira adalah gambaran sempurna bahwa tidak pernah ada satupun di antara mereka yang memenangkan perang. Baik itu pihak jahat atau baik. Saat kejahatan kalah, pihak baik juga kehilangan orang-orang yang mereka cintai dan kasihi. Bahkan Yudistira menggambarkan tidak ada artinya kemenangan itu tanpa orang-orang yang mereka sayangi.

Nilai baiknya, Yudistira berhasil memimpin kerajaan dan membuat rakyat hidup bahagia. Lebih bahagia daripada saat Duryudana memimpin. Disini nggak dijelaskan sih apakah ini termasuk kebaikan dari hasil memenangkan perang, tapi menurut aku, ini mungkin cara lain untuk menunjukan bahwa niat baik itu memang harus mengorbankan banyak hal. Demi kepentingan banyak orang. Tapi entah dengan perang atau bukan, aku nggak tahu.

Ah, kesimpulan akhir yang aku dapat tuliskan, apapun agama, ajaran, dan keyakinan, satu hal adalah mereka tetap mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Selalu ada balasan untuk kebaikan, dan selalu ada balasan untuk kejahatan. Kedengkian tidak pernah membuat seseorang merasa puas dan ingin merampas kebahagian milik orang lain.

Secara keseluruhan, buku ini bagus sekali. Nggak salah kenapa buku ini menjadi best seller. Dan buku ini aku rekomendasikan wajib ada di rak perpustakaan sekolah dan wajib jadi bacaan untuk tugas bahasa indonesia (karena aku yakin, remaja tidak akan mau membeli buku ini dan mengoleksinya di antara novel romantis mereka).

Hati yang penuh dengan kebencian tidak akan pernah mengenal kata puas. Kebencian adalah bara api kejam yang menghabiskan energi orang yang menghidupinya. – hal 197


Sampai jumpa di review selanjutnya ^^
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam:
  1. BloggerBuku Indonesia: Read & Review Challenge 2017 – Kategori Brick Book
  2. ProyekBaca Buku Perpustakaan 2017

G+

1 komentar:

Berikan komentarmu disini

 
;