Senin, 09 Januari 2017

[Review Buku] Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck : Cinta sejati yang tidak akan pernah lekang oleh waktu


Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis Hamka
Penerbit PT Bulan Bintang
Cetakan le-31; April 2008; 236 hlm
Cerita ini berkisar tentang semangat juang Zainuddin, bagaimana merana dan melaratnya hidup Zainuddin setelah cintanya ditolak oleh keluarga Hayati. Kemudian beliau bangun semula dari segala kedukaan, membuka lembaran baru dalam hidupnya menjadi seorang penulis yang ternama dan berjaya. Ia menceritakan tentang kesetiaan, cinta dan kasihnya Zainuddin terhadap Hayati. Meski Hayati sudah berkahwin tetapi sebaik mendapat tahu tentang kesusahan yang dihadapi Hayati, lantaran suaminya yang suka berpoya-poya serta tidak bertanggung-jawab, Zainuddin terus membantu tanpa ada dendam dan benci. Sesungguhnya cinta yang suci itu akan terus mekar di dalam hati hingga ke hujung nyawa begitulah jua cinta antara Zainuddin dan Hayati.
Buku ini berkisah tentang terpisahnya dua anak manusia, Zainuddin dan Hayati lantaran adat istiadat yang sudah turun menurun di Minangkabau. Dimana anak-anak perempuan disana harus menikah dengan orang yang berasal dari kampung yang sama, memiliki adat istiadat yang sama, andaikata pun berbeda adat, orang tersebut harus memiliki jabatan atau kedudukan.

Penulis seolah ingin menyampaikan kritik melalui tulisan ini bahwa adat istiadat yang berlaku saat itu di Minangkabau sangatlah ketat. Para tetua disana, atau lebih biasa disebut Datuk, seolah-olah menganggap adat istiadat tersebut sebagai kepercayaam, siapa yang melanggar celakalah dia. Mereka juga menganggap adat istiadat di daerah mereka paling baik dan paling beradab, sehingga adat dari daerah lain mereka anggap jelek, hina dan tidak setara dengan mereka.

Sialnya bagi Zainuddin yang saat itu mencintai Hayati. Meski ia keturunan Minangkabau, darah yang diwarisi ayahnya, tapi ibunya berasal dari suku lain, Menggkasar. Ayahnya menjadi orang buangan setelah membunuh Mamaknya yang saat itu menguasai harta peninggalan ibunya. Sehingga ketika Zainuddin kembali ke Minangkabau, tepatnya Batipuh Sapuluh Koto (Padang Panjang) ia dianggap orang asing sama sekali, belum lagi ia yatim piatu dan tidak beharta pula. Sehingga orang menggap hina Zainuddin.

Hayati yang awalnya menaruh simpati pada Zainuddin jatuh cinta kepada laki-laki karena kebaikan hatinya. Meski cinta mereka ditentang oleh seluruh kampung, Hayati tetap kekeuh akan mencintai Zainuddin. Saat akhirnya Zainuddin di usir ke kota Padang, Hayati berjanji akan menunggu kedatangan Zainuddin. Dan berangkatlah Zainuddin demi mencapai cita-citanya itu. Menjadi orang terpelajar dan beharta. Sayangnya sebelum semua itu terlaksana, Hayati menerima pinangan Aziz dan melupakan janjinya pada Zainuddin.
“Kita bersahabat dan kita bercinta. Karena kalau kau tak cinta kepadaku, artinya kau bukan bersahabat.” – Zainuddin : hal 52
Alur yang digunakan dalam novel ini seluruhnya maju. Menceritakan secara singkat dan gamblang sejarah bagaimana Zainuddin menjadi anak minangkabau yang ditolak oleh sukunya sendiri, dan bagaimana cinta Zainuddin-Hayati tumbuh. Semuanya tepat, tidak terlalu cepat ataupun lambat. Aku cukup suka bagaimana alurnya dibawa, karena buku setipis ini mampu mencangkup kehidupan para tokoh utamanya dengan baik.

Aku menyukai perjalanan Zainuddin demi memperoleh cintanya. Ia taat belajar ilmu agama, dan juga syair-syair lalu berniaga. Semua ia lakoni demi pengalaman, ilmu untuk bekalnya nanti. Dan aku terenyuh, sedih saat Zainuddin patah hati. Aku tidak tahu kenapa, tapi bagian ini menyentuh sekali. Apalagi Zainuddin sempat sakit dan mengigau nama Hayati. Dan jujur aja, cinta yang begitu besar diberikan Zainuddin kepada Hayati bikin aku sedikit iri. Mungkin memang ada laki-laki seperti Zainuddin di masa itu.
Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis Sali sedang. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan. Berangkatlah! Dan biarlah Tuhan memberi perlindungan bagi kita.” – Hayati : hal 63
Sempat bingung sih, karena udah mencapai halaman 200 lebih,belum ada tanda-tanda disebut tentang Kapal Van Der Wijck, dan ketika sampai pada bagian itu aku tidak bisa menghentikan membaca buku ini. Karena kita akan dibuat bertanya-tanya, menyatuhkah dua cinta suci yang telah terpisah itu. Apalagi Zainuddin yang terlanjur sakit hati pada Hayati.

Aku sangat menyukai bahasa novel ini. Diksi yang berupa syair mengalun indah setiap halamannya. Aku merasa seperti membaca hikayat lama yang mendayu-dayu menghanyutkan perasaan. Terutama bagian surat menyurat antara Zainuddin dan Hayati, sangat-sangat romantis tanpa perlu umbar-umbar perasaan berlebihan seperti novel zaman sekarang, tersirat tapi tepat sasaran.

Aku tidak bisa mengatakan ini sebagai kelemahan, karena kelemahan ini adalah ciri khas sekaligus yang membuat novel ini sangat layak untuk dibaca. Karena tulisannya banyak mengandung syair, terkadang aku merasa tidak menangkap kemana maksud kalimat tersebut, terutama kalau aku lagi bacanya dengan pikiran kosong. Tapi kalau aku konsentrasi, aku bisa memahami maksudnya. Jadi ya aku sarankan membaca buku ini sedang dalam mood yang bagus, karena kalau tidak, maksud dari buku ini tidak akan sampai.

Secara keseluruhan, aku sangat menyukai novel ini. Menyukai romantisme ala zaman dahulu dan menyukai maksud yang disampaikan buku ini. Dimana kebahagian itu tidak akan bisa diukur dengan harta, kebahagian itu akan diukur dengan hidup bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita. Dan bila kita mengabaikannya, maka tidak akan ada kebahagiaan yang menanti di masa depan.
“Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya adapula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celaka diri kau Dik! Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas dirimu sendiri.” – Zainuddin : hal 128
***

Tulisan ini diikutsertakan dalam:

G+

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentarmu disini

 
;