Kamis, 16 Februari 2017

[Review Buku] Erebos - Ursula Poznanski

Kadang-Kadang, Aku Pikir Game Ini Hidup
  

Judul: EREBOS
Judul Asli: Erebos
Penulis: Ursula Poznanski
Penerbit: Noura Books
Penerjemah: Puti Kellermann
Desain cover: Vincen
Cetakan ke-1; Januari 2015; 578 halaman


Blurb

Sesuatu sedang terjadi. Nick bisa merasakannya, tapi tidak tahu apa. Teman-tema sekolahnya tiba-tiba berubah—saling berbisiki, menatap sekeliling dengan waspada—seolah-olah ada rahasia yang tidak boleh diketahui oleh dirinya.  Kemudian, satu persatu dari mereka menghilang.

Dan kini, sumber segala kejadian itu ada di tangan Nick. Sebuah CD game. Si pengirim sudah mengingatkan Nick, nyawa jadi taruhannya. Nick tidak peduli, dia harus tahu apa yang terjadi. Komputernya menyala. Layar mulai menggelap. Sebuah pemandangan janggal menyambutnya. Dia memasukinya, dibayangi maut, menuju kegelapan terdalam dari permainan yang mereka sebut... Erebos

Sinopsis

Aku tidak harys mencari kegelapan. Kegelapan selalu menyelimutiku. Ia mengalir bersama nafasku sebagai tubuh dari bayanganku. – hal 1

Nick, merasa Colin berubah. Colin tidak hadir latihan basket, bolos sekolah, telepon yang tidak pernah di angkat, Colin yang mulai akrab dengan anak-anak yang sebelumnya tidak pernah ia dekati, bahkan Colin menjaga jarak dari Nick. Nick juga baru menyadari, bukan hanya Colin yang berubah, tapi beberapa murid pun mengikuti jejak yang sama dengan Colin, berkumpul berkelompok seolah mendiskusikan sesuatu yang rahasia. Dan ketika Nick melihat terjadi pertukaran kepingan CD di antara teman-temannya, ia pun bertanya. Tapi tidak ada satupun yang bersedia menjawabnya.

Keinginan Nick untuk mengetahui CD tersebut terkaburlkan saat salah seolah murid perempuan memberikannya kepada Nick. Dengan syarat Nick hanya boleh membukanya ketika sampai di rumah, dan jika melanggar akan mendapat masalah. Nick yang sudah terlajur penasaran menepati aturan tersebut. Ketika Nick mulai memainkannya, ia terjerat. Ia berambisi untuk meningkatkan kekuatan dan level dalam permaian tersebut, untuk itu Nick harus melakukan tugas-tugas dari Si Pembawa Pesan. Masalahnya, tugasnya sesuatu yang berhubungan dengan dunia nyata, dan ketika Nick berhasil menyelesaikannya, ia mendapatkan level dan hadiah kejutan. Kaos Hell Froze Over. Kaos yang paling ingin ia miliki.

Masalahnya bagaimana Erebos tahu? Karena hanya dia dan Finn, kakak kandungnya, yang tahu hal tersebut.

Kesetian Nick diuji. Kenaikan tiga level menjadi iming-iming menggiurkan.

Tugasnya adalah membunuh guru bahasa Inggrisnya, Pak Watson.

“Kenapa dia bisa menginginkanmu? Jawabannya adalah karena setelah kau menyelesaikan tugas itu, kau telah membuktikan diri, kau bersedia melangkahi mayat demi Erebos. Atau masuk penjara.” – hal 469



Review

Aku kecanduan!!

Ketika memulai membaca buku ini, aku nggak bisa berhenti untuk lanjut baca dan terus baca. Yah kecuali kalau udah di ganggu Zayan, baru berhenti haha. Buku ini benar-benar keren dan menegangkan. Untuk cerita remaja, novel ini ingetin aku sama karya-karya R.L. Stine. Mampu menciptakan ketegangan lembar demi lembarnya.

Novel ini mungkin nggak menampilkan adegan se wow The Hunger Game, atau Maze Runner, dan andaikan novel ini difilmkan, aku yakin nggak perlu efek maha dahsyat, kecuali di bagian ketika Nick menjalankan game-nya, karena novel ini lebih mengfokuskan petualangan Nick di dunia nyata, sedangkan Erebos hanya sebuah jalan yang harus di lalui Nick untuk mencari tahu kebenarannya.

Kisah ini tentang petualangan Nick yang mencari tahu keberadaan Erebos, kenapa game tersebut bisa mengetahui segalanya, mengetahui keinginan pemainnya, mengetahui mimpi-mimpi pemainnya yang tidak pernah orang lain ketahui dan game tersebut mampu memberikan jawaban yang masuk akal atas sebuah pertanyaan acak. Nick makin gencar mencari tahu saat Jamie Cox, temannya yang mencurigai Erebos berbahaya, mengalami kecelakaan dan hampir menewaskan remaja tersebut. Nick yakin ini berhubungan dengen Erebos, karena ia pernah mendapat tugas serupa. Nick tidak bisa mempercayai siapapun, karena peraturan ketat yang ditentukan oleh Si Pembawa Pesan. Dia selalu tahu jika ada pemain yang melanggar.

Fakta satu demi satu terkuak. Dan mereka ternganga tidak percaya ketika mengetahuinya. Ternyata kunci yang memegang misteri ini ada di tangan sahabat mereka sendiri. Semuanya mulai terlihat masuk akal dan mereka berhasil mengambil kesimpulan apa tujuan game Erebos ini. Dan Nick berpacu dengan waktu untuk menghentikan pertarungan besar yang digembar-gemborkan oleh Si Pembawa Pesan dalam game Erebos.

Uniknya lagi, keseluruhan game ini merujuk pada mitologi Yunani dan karya-karya Michelangelo. Disini kita bakal di ajak untuk mengetahui sedikit tentang sejarah. Tapi tetap dijabarkan dengan menarik.

Pokoknya novel ini wajib banget jadi bacaan remaja, terutama pecinta fanstasi, novel ini menjadi hal wajib masuk dalam daftar bacanya. Cara Penulis menjabarkan game ini, membuat aku berpikir penulisnya adalah seorang cowok maniak game, dan ketika aku baca profilnya ternyata seorang ibu dari seorang anak.

Ending novel ini, terbilang biasa aja. Mungkin kalau beberapa novel dengan bergenre fantasi biasa disuguhkan twist plot, sedangkan novel ini mengambil ending “lurus” sejalan dengan fakta-fakta dan konflik yang telah dibangun dalam novel ini.

Kelebihan novel ini pun novel ini berdiri sendiri, alias nggak berseri. Aku biasanya selalu nemuin kalau fantasi itu selalu berseri. Jadi ketika Erebos ini tidak ada lanjutannya, aku tidak ragu memilih ini sebagai bacaan aku.Dan aku nggak kecewa sama hasilnya.

Pesan dari novel ini seolah-olah ingin meninju para gamers di luar sana. Bahwa tidak ada kebaikan sama sekali ketika membiarkan remaja duduk di depan komputer dan memainkan game sepanjang waktu. Meski game tersebut menawarkan niat baik untuk para pemainya. Banyak waktu mereka yang hilang bersama keluarga, teman, pekerjaan sekolah yang diabaikan, dan ketertarikan untuk meninggalkan dunia nyata cenderung menghampiri pemikiran pecinta game.

“Semuanya begitu mengerikan.begitu tidak adil, rasanya aku ingin berteriak. Tapi, bukan berarti boleh ada seseorang yang menjadi pembunuh, bukan?” – hal 526
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam:

G+

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentarmu disini

 
;