Kamis, 26 November 2015

[Review Buku] Ziarah yang Terpanjang by Kurnia Usman

Ziarah yang Terpanjang
by K. Usman
Penerbit Kakilangit Kencana
Editor by Syafruddin Azhar
Cetakan 1; Desember 2009; 310 hlm
Desain sampul by Circlestuff Design
Rate 3 of 5

Boti, seorang wartawati muda ingin menikah pada usia 27 tahun. ketika berjumpa dengan Aditya, seorang salesman mobil, mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta kilat mereka itu lalu dilanjutkan ke pelaminan. Sayang, Boti tidak bahagia. Seusai bulan madu, Boti masih tetap gadis perawan. Aditya hanya gagah dan tampan secara fisik saja, lelaki muda yang pencemburu itu adalah leban alias ‘lelaki banci’. Upaya untuk menjadi lelaki pejantan selalu gagal total.
Aditya sangat cemburu kepada Karel, seorang pengarang separuh baya, sahabat dekat yang disayangi Boti.
Pada lelaki itu, Boti menemukan sosok seorang ayah yang sangat dicintainya, tetapi ibu si Boti dan kedua adik perempuannya tidak menyukai karel.
***

Inti cerita dan konflik dari cerita ini sudah tergambar jelas pada sinopsis cover belakang di atas. Lagipula sepanjang jalan cerita tidak ada konflik tambahan yang bikin pembaca merasa greget.

Aku suka ceritanya. Dimana tema percintaan orang dewasa yang jauh dari keintiman yang tidak perlu. Misalnya ciuman, pegangan tangan dll. Disini kita akan tahu, bahwa kita bisa mencintai setengah mati kepada orang hanya dengan mengenal pribadinya. Bahkan fisik sempurna dengan harta melimpah pun tidak bisa menjamin bahwa cinta itu berbuah bahagia. Seperti kehidupan Boti dan Aditya. Boti yang menyukai Aditya karena ketampanannya dan karena desakan ibu dan adik-adiknya membuat Boti tidak memikirkan dua kali untuk menikah di usianya yang 27 tahun.

Sedangkan pada Karel, Boti menemukan sosok ayah dan pria yang bisa mengayomi dirinya serta membimbingnya. Tapi hubungan tersebut di tentang oleh Ibu dan adik-adiknya. Sebenarnya bukan itu saja, cinta Karel pada Boti pun terhalang oleh janji Karel kepada mendiang istrinya untuk tidak menikah lagi.


Karakternya sendiri jelas dan terarah banget. Boti yang cerdas, tapi tidak bisa menutupi dirinya dari kesedihan, kekecewaan dan kemarahan akibat nasib yang menimpanya. Membuat ia menyalahkan ibu kandungnya karena memaksa menikah dengan Aditya karena rupanya yang sangat rupawan.

Karel, pengarang tua berusia 55 tahun, yang kebapakan dan penuh ilmu pengetahuan membuat Boti betah bersamanya. Sayangnya dia sudah mengikat janji kepada mendiang istrinya. Dan konflik batin yang ada pada dirinya untuk tidak mencintai Boti terlalu jauh betul-betul mengesankan.

Aditya laki-laki idaman para wanita. Punya harta, pekerjaan yang bagus, fisik yang sempurna namun memiliki kelemahan pada alat vitalnya. Dia laki-laki pecemburu dan sangat ingin mempertahankan Boti dalam ikatan pernikahan. Sayangnya, Aditya tidak bisa menjaga hal tersebut dengan baik. Emosinya yang meledak-ledak membawa bencana pada kehidupannya.

Endingnya bikin penasaran. Nah “penasaran” yang aku maksudkan adalah benar-benar bikin gak terduga. Emang sih gak ada yang wow di endingnya, tetapi endingnya itu benar-benar terasa alami dan apa ya ... susah aku jelasin tanpa perlu spoiler. Pokoknya endingnya cukup bagus, dan bikin kita menebak bagaimana kisah cinta Boti-Karel.

Karakter oke. Alur cerita juga menarik. Tema percintaan dewasa juga diangkat menjadi hal yang bisa dibaca oleh semua kalangan. Endingnya juga lumayan dramatis. Lalu kenapa aku memberi rating 3 dari 5?

Alasan pertama karena gaya tulisannya yang agak kaku. Mungkin karena penulisnya adalah generasi tua (Kelahiran 1940) jadi membaca novel ini terasa membaca karya-karya sastra zaman dulu. Seperti karya-karya Kairil Anwar dan sebagainya. Jadi buat aku yang terbiasa dengan penulis-penulis lokal yang bergaya bahasa ringan dan sehari-hari, jadi agak kurang nerima di kepala hehe. Agak bikin bosan. Bahkan zaman sekarang, novel terjemahan pun disesuaikan kan dengan pembaca yang ada. Meski bahasanya formal, tapi enak di bacanya.

Alasan kedua. Alur maju mundurnya sih oke. Masih bisa dipahami meski penulis gak memberi “aba-aba” bahwa kita sedang dibawa ke alur mundur. Cuma yang aku gak sukanya, banyak hal yang terlalu di ulang-ulang dalam dialognya. Terutama percakapan antara Boti-Karel. Rasanya kok mereka ngomongnya yang itu-itu aja padahal di bab sebelumnya mereka juga ngomongin itu tapi dengan dialog yang berbeda.

Seandainya novel ini adalah sebuah film, adegan yang paling banyak di dominasi oleh Boti-Karel. Aditya dan tokoh lain hanya figuran yang ditampilkan untuk menciptakan konflik. Cerita benar-benar berpusat pada Boti-Karel. Hanya mereka berdua. Jadi jangan kaget kalau novel setebal 310 halaman ini lebih di dominasi oleh Boti-Karel.

Intinya aku merekomendasikan novel ini untuk memahami arti cinta dewasa yang sesungguhnya. Tapi misalnya gak suka dengan gaya tulisan yang terlalu sastra jadul, jauh-jauh dech, takutnya pada gak suka dan langsung nge-jugde novel ini gak keren. Padahal menurut aku novel ini bisa di masukan dalam daftar bacaan.

Oke sekian dulu reviewnya ...

Sampai jumpa di review selanjutnya ^^

G+

2 komentar:

  1. Mbak kalau boleh tahu, mbak beli buku sendiri terus mbak baca n tulis reviewnya di sini semua gitu ya? Bener-bener keren mbak, berdedikasi untuk mereview semua buku2 yang mbak beli. Bisa dibuat referensi nih kalau ingin beli buku. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Jefry ^^

      Sebagian buku memang punya aku sendiri, tapi ada sebagian juga pinjam dari perpustakaan wilayah.

      Allhamdullah kalau seandainya review di blog ini bisa bermanfaat untuk orang lain.

      Dan terima kasih sudah mampir di RING DING DONG ^^

      Hapus

Berikan komentarmu disini

 
;