Kamis, 28 Januari 2016

Book addict is the new sexy: Perjalananku Bertemu Dengan Buku



Awal Mula Aku Suka Membaca

Hobi membaca itu aku dapatin pas masih duduk di bangkus Sekolah Dasar alias SD. Emang sih belum getol banget bacanya, masih suka-suka gitu aja. Gak sampe maniak. Maklum namanya juga anak SD lebih senang main daripada baca.

Trus hobi ini berkembang saat aku kenal sama detektif conan.

Kebetulan di dekat sekolahku ada dibuka rental novel-komik gitu.

Aku pilih detektif conan pun gak tahu kenapa. Padahal komik banyak banget disitu. Mulai dari serial cantik, misteri dan lain-lain.

Awalnya baca satu komik, lalu lama kelamaan ketagihan baca komik hingga komik conan itu berakhir di no. 26

Gak akan pernah aku lupa saat itu. Karena di no. 26 ada adegan dimana Conan alias Sinichi ketembak pas lagi mecahin kasus di dalam gua. Dan Ran donorin darahnya ke Conan seolah-seolah ia udah tahu golongan darah Conan.

Bolak-balik aku ke rental komik itu, nanyain lanjutanya. Setiap kali aku kesana, si abang-abang itu bilangnya belum ada lanjutannya. Terus dikesempatan lain dia bilangnya udah di pinjam sama orang. Sampai akhirnya aku beralih ke sebuah novel kecil karya R.L. Stine dengan seri Goosebump-nya. 

Koleksi Goosebump dan Fear Streat by R.L. Stine

Goosebump berhasil membuat aku lupa betapa kesal, marah dan penasarannya aku dengan lanjutan Conan. Malah selama aku baca Goosebump, gak pernah sekalipun aku nanya-nanya tentang Conan. Takutnya, jiwaku yang masih lugu dan polos itu terluka mendapat jawaban yang tidak diharapkan dari abang-abang itu.

Hingga aku lulus SD dan aku melupakan abang-abang penjaga rental itu.

Tapi satu hal yang berubah saat itu. Aku mencintai kegiatan membaca lebih dari apapun.


Hambatan yang Pernah Aku Alami

Kayaknya ini masalah yang akan dihadapi oleh semua anak-anak seusiaku.

Aku lebih suka membaca buku cerita daripada buku pelajaran, dan itu bikin sebagian orang tua kesal. Bener gak? Kalau zamanku dulu, itu membuat mamaku kesal setengah mati.

Aku sanggup menghabiskan setumpuk buku-buku yang aku sewa tapi langsung tertidur pas dihadapkan dengan buku pelajaran.

Mama pernah marah-marah dan ngancam akan ngebakar semua buku-buku itu. Tentu aja aku takut. Uang jajanku pas-pasan. Apa jadinya kalau sampai mama serius ngebakar buku itu dan gimana cara aku ganti rugi ke rentalnya?


Cara Aku Mengatasi Hambatan Tersebut

Segala masalah itu ada sisi positifnya.

Benar sekali. Untuk kasusku, harus aku akui itu benar sekali.

Soalnya semenjak mama bersikap seperti itu, aku jadi lebih membatasi baca bukuku. Tapi bukan berarti aku rasa cintaku kepada buku menjadi berkurang. Malah semakin tertantang. Namanya juga anak-anak, semakin dilarang malah semakin dikerjain. Iya kan? Yang pernah punya pengalaman sama kayak aku pasti paham rasanya.

Aku putar otak (bukan otak kebalik ya haha *garing).

Di rumahterutama kalau ada mama aku bakal menjauhi apapun yang namanya buku cerita. Entah itu komik, novel atau majalah anak-anak Bobo. Tapi menjelang tidur, aku selalu menggunakan waktuku sekitar 1 jam untuk membaca buku. Ini agak was-was, soalnya mama suka ngecek ke kamar apa aku udah tidur atau belum. Tapi selama aku ngelakuin ini, situasi aman terkendali. Asal aku gak kebablasan baca buku sampai larut malam.

Karena sedikitnya waktu yang aku punya untuk membaca di rumah, maka aku terpaksa menggunakan jam istirahat sekolah untuk membaca buku. Syukur-syukur kalau ada guru yang gak masuk sehingga aku punya waktu dua jam untuk membaca buku.

Pokonya setiap ada waktu kosong, pasti aku gunakan untuk membaca.

Dan hal itu membuat kehidupanku menjadi lebih teratur. Aku tetap membaca, belajar dan paling utama tidak kena marah sama mama.


Perubahan Besar yang Aku Alami

Kegilaanku terhadap membaca berubah menjadi fanatik. Ini aku alami saat kelas 3 SMP. Uang jajan sehari-hari aku tabung untuk membeli buku. Karena buku di rental tempat biasa aku singgahi, tidak punya buku untuk mencukupi dahagaku akan membaca buku. Apalagi saat itu aku sudah memiliki genre kesukaanku, yaitu Misteri-Triller yang disebabkan pengaruh R.L. Stine. genre Kriminal yang disebakan oleh Detektif Conan dan genre Horor yang disebabkan oleh Goosebump. 

Koleksi Agatha Christie karena pengaruh Conan


Koleksi Sherlock Holmes dan pengaruh utamanya tetap Conan hehe

Uang jajanku saat itukalau tidak salah Rp 2000,-.

Eits jangan salah. Mungkin sekarang 2000 itu Cuma bisa bayar parkir, tapi zamanku dulu 2000 udah bisa beli kue 4 potong, minum dan lebihnya kadang bisa untuk makan bakso atau somai.

Dan uang itulah yang aku tabung untuk membeli buku. Aku rela gak jajan (minum bawa dari rumah) supaya bisa kumpulin uang untuk memulai hobi baru. Yaitu koleksi komik kesukaanku, Detektif Conan. Hagarnya dulu masih Rp 9500,- yang artinya aku punya 10 hari untuk membeli 1 komik. Obsesiku terhadap Conan membuat aku membeli komik tersebut dari volume 1. Dan hingga kini aku masih mengoleksi conan. Dan hobi terus merambah ke novel.

Ini aku kumpulin pas uang jajanku masih Rp 2000,-

Ini aku kumpulin pas aku udah kuliah, otomatis uang jajannya lebih banyak lebih ^^

Aku ingat novel pertama yang aku beli itu karya Sidney Sheldon berjudul Wajah Pembunuh. Dan ini adalah novel dewasa pertama yang aku beli. Waktu itu aku belum tahu ada batasan antara novel dewasa, remaja. Asal ceritanya menarik, aku embat. 

Sempat kaget pas di dalamnya ada adegan yang vulgar wkwkwk

Lama kelamaan aku mulai pandai mengatur keuanganku sendiri.

Aku harus pintar membaginya untuk jajan (supaya gak terlihat aku pelit banget hehe), menabung di celeng ayam dan tetap ngejalanin hobiku.

Dan aku bangga karena saat itu, di usia yang begitu muda, aku sudah di percaya mama untuk diberikan uang jajan bulanan. Sekitar Rp 100.000,-/bulan. Bayangin aja, kalau Rp 2000,- aku bisa beli kue + makan bakso, apa yang bisa aku lakukan dengan duit Rp 100.000,-?



Anggapan Orang-Orang di Sekitarku

Beberapa orang suka nyebut “kutu buku”. Tapi aku gak suka dengan sebutan itu. Karena meskipun aku memang terkesan fanatik dengan buku bacaan, tapi aku gak kuper dan terpencil dari teman-temanku. Aku bisa bergabung dengan mereka kapan saja aku mau. Aku bisa ngikutin perkembangan apa yang sedang mereka ketahui dan paling utama aku bukan sosok berkacama tebal dengan buku yang berjarak 1 cm dari mukaku.

Untuk orang yang hobi baca buku, mataku terbilang sangat-sangat sehat. Padahal beberapa teman sebayaku, sudah memakai kacamata. Entah untuk efek trend atau memang mata mereka minus. Yang pasti aku lebih bangga dengan mata sehat tanpa bingkai di sekiling wajahku.

Percayalah, julukan “kutu buku” itu gak keren sama sekali. Malah terkesan menyindiri.  Coba berpikir seperti ini Book addict is the new sexy” pasti kamu akan tahu bahwa manfaat membaca itu bukan membuat mata rabun, tapi sexy.

Kenapa sexy?

Oke aku gak akan pungkiri sexy itu (bagi cewek) adalah bentuh tubuh proposional, putih dan montok di beberapa bagian.

Tapi ada gak sih yang mikir, semua kelebihan fisik “sexy” itu gak akan bisa menutupi minimnya pengetahuan kita?

Sekarang bandingkan, cewek biasa-biasa aja, tapi punya pengetahuan yang lebih atau rata-rata di atas teman-teman sebayanya. Semua itu dia dapatin dari membaca. Pasti banyak pujian yang mengalir untuk cewek tersebut dan otomatis, pujian itu akan meningkatkan percaya diri, dan percaya diri akan meningkan “sexy” dalam diri kita sendiri.

Percaya?

Baca terus lanjutan tulisanku ini



Upaya “Tidak Sengaja” Aku Menularkan Virus Membaca

Untuk pembahasan ini aku rasa tidak perlu sebenarnya. Aku tidak pernah memaksa atau mencoba mengajak orang lain untuk menyukai membaca.

Cuma ada beberapa hal yang aku lakukan─tidak aku sadari─ malah membuat beberapa temanku mulai melirik membaca.

Kebiasaanku yang suka membaca selama jam-jam kosong, terutama di sekolah, membuat beberapa orang penasaran. Kenapa aku bisa bertahan duduk diam di sudut kelas sambil membaca buku.

Jawaban aku: “Info yang kita dapatin dari sebuah buku lebih menarik daripada info yang kita dapatin dari buku pelajaran. Dan itu lebih memudahkan kita untuk mengingatnya.”

Terus mereka pengen coba pinjam bukuku. Aku yang takut bukuku rusak memasang aturan ketat untuk peminjam.

Gak boleh dilipat.

Gak boleh ditidurin.

Gak boleh digulung.

Dan gak boleh dicoret.

Dengan senyum-senyum nakal mereka mengangguk. Akhirnya salah satu dari mereka duduk di sebelahku dan mulai menikmati buku punyaku.

Mengejutkan!!!

Temanku itu gak pindah dari sisiku sampai aku menyelesaikan halaman terakhir buku bacaanku. Aku Cuma tersenyum.

Cuma satu hal yang mulai membuatku jengkel.

Bukuku makin sering dan makin banyak yang pinjam.



Upaya “Sengaja” Aku Menyebarkan Virus Membaca

Upaya “Sengaja” ini terpikirkan saat aku mulai melirik dunia blog. Aku bertekad di blog ini akan memuat beberapa sinopsis atau review buku yang pernah aku baca.

Ide ini terbentuk saat aku menyesali membeli sebuah buku tanpa mencari tahu tentang buku tersebut. Waktu itu gagdet belum terlalu berpengaruh dalam kehidupan aku. Jadi belum kenal yang namanya Goodreads, atau komunitas buku. Makanya semenjak membaca buku yang isinya mengecewakan tersebut, aku memutuskan untuk membuat blog (atas saran seorang teman, dan blognya pun di buat teman hehe) yang isinya tentang buku.

Sayangnya, setahun berlalu, aku kehilangan waktu untuk menulis review yang aku baca. Alasan klasik: kuliah, laporan, tugas, skripsi dan lain-lain. Hingga awal tahun 2015 aku memulai lagi kegiatanku itu, dan bertekad untuk menjadi lebih baik dan menjadi lebih aktif dari dulu.

Statusku yang sebagai ibu rumah tangga punya beberapa jam waktu kosong untuk menyempatkan menulis dan membaca. Dua hal yang wajib aku imbangi agar aku tetap produktif dalam dua hal tersebut.

Dan hasilnya mengejutkan.

Meski baru, aku sudah 2x dipercaya untuk menjadi Host Blogtour dan di percaya oleh penulis untuk me-review bukunya. Allhamdullah...



Manfaat Membaca Yang Efeknya Sangat Positif Untukku

Bergelut dengan anak yang masih kecil memang saat yang luar biasa. Tidak ada momen yang bisa ngalahin saat-saat melihat tawa anak-anak kecil. Bahkan hadiah satu truk buku pun rasanya masih kurang bisa menyamai momen itu.

Tapi ada saatnya ketika aku rindu dengan duduk santai dengan sebuah buku di tanganku. Ditemani segelas kopi hitam yang mengepulkan asapnya.

Jujur aku sangat-sangat rindu.

Apalagi aku tidak bekerja, separuh kehidupanku aku abdikan untuk anakku dan rumah tangga. Bayangkan bagaimana rasanya dikelilingi kepenatan rumah tangga (kecuali anak. Anak adalah obat penawar kepenatan)? Cucian menumpuk, kain setrikaan juga segunung, belum lagi memasak dan berbagai hal lainnya.

Disinilah buku berperan penting.

Saat si kecil sudah tidur, aku selalu menyempatkan membaca dan menulis. Seperti yang sudah aku bilang, kegiatan ini harus imbang agar aku tetap produktif. Bukan hanya produktif, aku ingin tetap bisa berpikiran jernih dengan menumpahkan semua kepenatan dalam dua kegiatan tersebut.

Dan inilah hasil bahwa membaca buku dan menulis bisa “menghasilkan sesuatu”.

Karena hobi membaca, aku beberapa kali sudah memenangkan giveway yang hadiahnya buku. 

Ini buku yang aku dapatin dari ikutan giveaway, dari penulis dan dari penerbit
Karena hobi menulis, aku juga udah beberapa kali memenangkan lomba menulis. Kebanyakan sih cerpen, dan 3 diantaranya sudah di bukukan bersama pemenang yang lain. Semua itu aku capai dalam waktu 1 tahun. dan semua itu berkat hobi membaca. Dan teman-temanku kagum dengan pencapaianku. Mereka kadang memberi semangat dan suka memuji hasil tulisanku. 

Rasa bangga yang tidak terkira ketika melihat ada tulisanku di dalamnya ^^
Yup, yang awalnya Cuma membaca kini aku melirik dunia menulis. Gak akan bisa dipungkiri, kalau suka membaca, pasti akan suka menulis.

Dan disinilah makna “Book addict is the new sexy” yang sebenarnya.  Pujian, sanjungan dan pendapat orang tentang tentang aku membuat aku merasa “sesuatu” yang berbeda.  

Sexy? Mungkin aku akan sangat menyukainya haha

Nah untuk menjadi sexy gak usah jauh-jauh dan gak perlu susah-susah.

Stilletto book adalah penerbit yang mengkhususkan dirinya sebagai Penerbit Buku Perempuan. Di Stilleto Book kamu akan dapatin semua karya-karya perempuan “sexy” yang telah berhasil menelurkan karyanya untuk dibaca oleh seluruh penduduk Indonesia. 

Mulai dari fiksi sampai non-fiksi diterbitkan oleh Stiletto Book dan perlu digaris bawahi, semua penulisnya adalah Perempuan. Ya perempuan. Salah satu dedikasi Stilleto Book dalam mendukung emansipasi wanita. Bahwa wanita bisa berkarya dan dibaca oleh semua wanita bahkan pria di seluruh Indonesia. 

Dan kalau kamu baca buku-buku yang diterbitkan oleh Stilleto Book, kamu bakal tahu bahwa wanita sexy itu sangat-sangat banyak. 

Dan buat kamu yang ingin menjadi sexy, cukup hasilkan karya yang bisa di baca oleh semua orang. Jamin deh, ketika ada 1 orang aja yang muji karya kamu, kamu bakal ngerasa sexy, melebihi Megan Fox atau Angelina Jolie

Tapi untuk menghasilkan karya tulis, kamu harus rajin-rajin membaca. Karena hanya dengan membaca berbagai macam ide bisa melintas di kepala kamu.
 


Pandangan Aku Tentang Budaya Membaca

Menurut aku membaca itu tidak perlu dipaksa, tapi dibiasakan. Beda orang: beda sifat, beda selera dan beda pendapat. Terus untuk apa mencoba memaksa sesuatu yang tidak mereka suka?

Aku setuju rendahnya budaya membaca di zaman sekarang ini. dimana gadget lebih menguasai mental anak-anak negeri daripada berkutat dengan lembaran halaman buku. Mereka bisa menerima apapun yang ditawarkan gadget, tapi tidak sedetik pun bertahan dengan untaian kata dari seorang penulis.

Dan memerangi kemalasan membaca bukan dari menyodorkan mereka segudang manfaat dari membaca.

Tapi mulai dari biasakan dia dengan membaca.


Harapan

Banyak harapanku yang berhubungan dengan dunia buku. Salah satunya adalah perpustakaan.

Perpustakaan di kotaku, kota Meulaboh, itu sama kecilnya dengan kamar tidurku (aku baru 2 tahun pindah ke kota meulaboh). Cuma ada tambahan di depannya disediakan meja dan kursi untuk penjaga perpustakaannya. Padahal status perpustakaan itu adalah Perpustakaan Wilayah. Buku disitu gak cukup untuk memuaskan aku. Sementara ini aku bertahan dengan beberapa buku yang ada, tapi aku tidak tahu gimana kedepannya nanti.

Harapan aku adalah perpustakaan wilayah di kotaku lebih punya banyak koleksi bacaan.

Kecenderungan aku membaca buku, membuat aku tidak bisa beralih ke dunia ebook. Padahal dari beberapa penerbit, aku sudah membaca banyak ebook (soalnya gratis hehe) tapi tetap tidak bisa mengalihkan aku dari dunia buku cetak alias paperback. Dan untuk mendapatkan buku tersebut ..... susah. *hembus nafas panjang*

Tau kenapa? 

Soalnya di kotaku, gak ada toko buku sama sekali. Bahkan event book fair gak pernah di adain di kotaku ini.

Menyedihkan banget memang. Gimana pemerintah mau mencanangkan budaya membaca kalau hal penting dari membaca itu sendiri gak ada.

Perpustakaan gak lengkap.

Tidak ada toko buku.

Tidak pernah di adakan event book fair.

Aku bisa mendapatkan buku baru, seandainya suamiku tugas keluar kota atau ada temanku yang sedang berada di gramedia (aku mimpi banget bisa ke gramedia) mereka baik hati mau membelikan aku buku, bahkan ada yang kasih gratis pas aku ulang tahun.

Menyenangkan sekali rasanya ^^

Aku punya mimpi untuk hal ini.

Seandainya aku punya rezeki lebih, aku ingin buat sebuah taman baca yang bisa dimasuki oleh anak-anak secara gratis. Targetku adalah anak-anak, karena kalau anak-anak sudah dibiasakan untuk membaca, mereka akan meneruskannya hingga mereka dewasa. Berbeda kalau aku menargetkannya untuk remaja, aku yakin sekali buku-bukuku akan kalah tenar daripada gadget yang mereka punya.


Kesimpulan

1. Karena membaca, aku menghadapi berbagai masalah. Mulai dari izin orang tua dan teman-teman yang seenaknya minjam buku lalu tidak dirawat dengan baik. Nah hl itu membuat aku untuk lebih bijaksana dikemudian hari, bagaimana aku harus bersikap tanpa sekalipun melukai perasaan Mama yang saat itu suka marah-marah kalau aku kebanyakan baca komik atau novel.

2. Kebiasaan membaca itu tidak perlu dipaksa, tapi dibiasakan. Itu tergantung bagaimana orang tua atau kakak melatih kebiasaan itu sejak dini kepada anak atau adik mereka. 

3. Jangan sodorkan 1001 macam manfaat membaca kepada mereka, tapi buktikan bahwa membaca itu ada manfaatnya. 

4. Sediakan sarana, berupa buku, agar saat mereka butuh dan mereka haus akan hiburan, mereka akan menjatuhkan pilihan pada buku.

Akhir kata, sekian tulisanku kali ini.
Perjalananku yang singkat ini supaya mengispirasi pembaca, khususnya wanita untuk menjadi sexy.
“Book Addict is the New Sexy”



Nama: Neneng Lestari
Twitter: @ntarienovrizal
email : n_tarie90@yahoo.com


G+

6 komentar:

  1. dulu saya juga sering tuh sama kakak saya nyewa2 buku gitu di rental tapi sekarang masih ada nggak ya tukang rental2 begitu ? :|

    ohiya mbak mau nanya dong kalo biasanya baca buku yang udah tamat biasanya mbak baca lagi atau dianggurin bukunya ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di banda aceh, masih ada rental gitu. Peminatnya juga masih banyak .... sayangnya karena aku udah pindah ke kota kecil, gak tau mau nyewa dimana lagi x___x


      Kalau untuk novel terjemahan, biasanya aku baca ulang pas lagi-lagi suntuk atau pas lagi gak ada buku bacaan. Harry potter aja udah sampai 4x aku baca ulang hehe

      Hapus
  2. Wah sejarah membacanya panjang banget, mantap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya perjalanaan dar SD sampai sekarang, brrt hampir 15 tahun gitu

      Hapus
  3. Wah, sama donk suka rental buku wkt msh skul

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha rental itu memang penyelamat jiwa-jiwa yang haus akan bacaan tapi terkena penyakit kronis kanker *kantong kering* wkwkwk

      terima kasih sudah mampir ^^

      Hapus

Berikan komentarmu disini

 
;