Senin, 04 September 2017

Review Buku: Bukan Cinderella by Ifa Avianty

Judul: Bukan Cinderella
Penulis: Ifa Avianty
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)
Penyunting: Endah Sulwesi
Cetakan ke-1; 2015
Pages 320 halaman
ISBN: 978 – 602 – 1606 – 87 – 2

Blurb
Andra menikahi Laili, gadis pilihan ibunya. Pernikahan yang diyakini Andra tanpa dasar cinta dan sebagai wujud bakti kepada orangtua sedangkan Laili telah jatuh kedalam pesonanya Andra.
Pernikahan mereka terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan Laili yang sering memendam perasaannya dan Andra yang terkadang cuek, semauanya sendiri dan tak bisa ditebak membuat mereka sering salah paha dan menerka-nerka.
Andra yang berusaha menjadi suami yang baik berharap dapat menumbuhkan cinta dihubungan mereka tanpa menyadari cinta telah lama muncul meski malu-malu. Ketika cinta perlahan menampakan dirinya, penyusup hadir untuk menggoyahkan rasa yang mulai dimiliki Andra dalam sebuah cinta masa lalu yang sulit dilepaskan.


Sinopsis

Lalili, seorang gadis yatim piatu yang berjualan kue untuk membiayai sekolah adiknya, Yusuf. Sedangkan Andra adalah teman dekat Yusuf dari kecil. Kedekatankan itu pula yang membuat Ibu Andra telah mengenal baik Laili. Bertekad menjadikan Laili sebagai menantu keluarganya.

Andra tidak menolak. Toh dia besar didampingi Yusuf yang selalu bergantung pada kakaknya Laili, sehingga sosok Laili bukan gadis asing baginya. Ia percaya pada pilihan ibunya dan juga pada Laili.

Pernikahan pun terjadi. Nyatanya ada jarak yang begitu lebar di antara mereka hingga mereka sama sekali tidak melakukan malam pertama seperti kebanyakan pengantin. Ada janji dan ada rasa ingin dicintai yang bersemayam di dalam lubuk hati masing-masing, hingga tidak pernah ada komunikasi suami-istri di antara mereka.

Lalu bagaimanakah Laili bertahan menghadapi laki-laki yang ia yakini tidak akan pernah mencintainya sebagai istri?



Review

Bukan Cinderella (BC) memang nggak semirip dongeng klasik terkena itu, Cuma kemiripannya adalah Laili gadis tidak mampu. Menikahi berondong tajir, anak tunggal pula, menjadi berkah serta titik balik kehidupan Laili. Awalnya melarat, makan aja susah, kini tersedia ART yang siap melayani Laili.

BC ini menurut aku bagus. Alurnya maju-mundurnya lumayan oke, terus karakternya konyol (jangan tertipu sifat-sifat kalem dan pendiam mereka haha) dan konfliknya rada sedikit drama sinetron sih, hanya saja Kak Ifa berhasil membawakannya dengan baik hingga ending, sehingga aku nggak ngecap ‘lebay’.

Mulai dari kedetakan Laili – Andra. Aku yakin sih sebenarnya mereka ini udah ada getaran-getaran suka, apalagi Andra sering sekali main ke rumah Yusuf dan sering ketemu Laili yang notabene-nya emang nggak kerja dan nggak kuliah. Karena cari uang dari rumah. Mungkin karena gengsi atau karena ngerasa nggak enak karena itu kakak temannya, jadinya Andra diam aja. Jadi pas mereka udah nikah dan satu rumah, itu ada aja kejadian lucu yang terkait sama mereka berdua. Jamin dech kamu bakal suka.

Apalagi bagian ketika ke bagian rumah tangganya, misalnya seperti pakaian yang udah disusun rapi tapi bisa kusut dibikin Andra, dll. kejadian-kejadian kecil gitu mengingatkan sama kelakuan suami yang nggak beda jauh. Jadinya suka senyum-senyum sendiri sambil gemes. Apa semua cowok kayak gitu kali ya!?

Paling suka itu ketika pergantian pov Laili – Andra. Kamu bakal diajak menyelami pikiran-pikiran mereka yang rada gemesin, sekaligus malu-maluin. Sumpah!! Kok ada pasangan kayak mereka. Menurut aku sih pov mereka yang bergantian ini membantu banget untuk menutupi celah-celah yang kosong ketika sedang pov Laili atau pov Andra.

Nah konflik ini yang menurut aku rada drama bin sinetron. Dimulai dari perjanjian Andra – Yusuf  yang nggak masuk akal, tapi bisa aku maklumi. Serta munculnya cinta mati Andra yang bernama pepey dan kisah tragis di balik kehidupan mereka. Paling nggak suka itu ketika Andra nurut aja sama pepey ketika diajakin untuk bikin Laili cemburu. Nggak ngerti maksudnya kak Ifa, tapi aku rada kurang sreg bagian ini.

Tapi ketika konflik yang nggak aku sukai itu muncul, aku suka cara kak Ifa membawakan karakter Laili yang cemburu. Suka banget, tapi sekaligus benci. Karena ada sesuatu yang janggal disini. Soalnya bagian ini adalah bagian dimana Laili – Andra udah saling cinta dan udah berhubungan intim. Seharusnya bisa dicegah dan yah nggak perlu sedrama itu.

Secara keseluruhan aku suka. Suka banget sama pembawaan novel ini. Mulai dari kutipan-kutipan yang ngena di kehidupan rumah tangga dan sehari-hari. Juga resep Kak Ifa jadi menantu kesayangan itu wajib dicoba. Walaupun sederhana tapi kayaknya ampuh buat dipraktekin.

Kesimpulannya sih adalah komunikasi. Inilah yang ingin Kak Ifa sampaikan. Cewe dan cowo itu memang pada dasar dan kodratnya beda. Sehingga masing-masing dari mereka nggak akan pernah tahu isi hati pasangannya kalau mereka nggak nanya, atau nggak saling terbuka. Dan satu lagi, itu kalau masa lalu muncul dan kasih ide yang aneh-aneh, depak aja jauh-jauh... nggak usah diladenin. Mending daripada di test-test seperti itu, langsung nanya aja sama orangnya

Nggak perlu ujian yang dibuat manusia untuk menentukan seberapa besar perasaan mereka, tapi ujian yang dibuat oleh Allah akan membawa kekekalan untuk mempererat kisah mereka.

Selamat membaca dan sampai jumpa di review selanjutnya ^^

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam:
Indonesian Romance Reading Challenge 2017

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017


Read & Review Challenge 2017 – Kategori Contemporary Romance 

G+

1 komentar:

  1. rame kayaknya :) apalagi kalo banyak quote yang aplikatif banget

    BalasHapus

Berikan komentarmu disini

 
;