Sabtu, 20 Februari 2016

[Review Buku] Hannah, Misteri Gadis Terpasung - Fani Krismawati

Hannah, Misteri Gadis Terpasung
by Fani Krismawati
Penerbit Best Media Utama
Desain cover oleh Meproduction.net, Tim Best Media
Cetakan ke-1; Maret 2010; 288 hlm
Rate 1 of 5

Hannah adalah seorang gadis yang mengalami berbagai musibah beruntun di dalam hidupnya, sejak kecil ia hanya disayangi oleh ibundanya. Pada waktu berumur tujuh tahun, ia diduga mengalami penurunan fungsi otak dan mengakibatkannya menjadi seorang gadis idiot yang kadang-kadang dapat membahayakan orang lain dengan tingkahnya yang tidak disangka-sangka.
Sehingga membuat kakinya harus dipasung agar ia tidak dapat menganggu orang lain. Namun, suatu hari ketika ibunya sedang tidak ada, ayah Hannah selalu datang dan memperkosanya secara terus menerus. Sampai membuat Hanna menjadi gila dan menjadi gadis yang pemberontak.
Ayahnya pun sering membisiki Hannah dan meracuni bahwa ia harus membunuh ibunya dengan membakar tubuh ibunya dengan korek api. Sampai pada suatu hari, ketika ibunya lalai memasung kaki Hannah dan ia sedang tertidur pulas, Hannah pun menjalankan aksinya. Ia benar-benar telah membakar ibunya sampai mati.
Akhirnya Hannya dimasukan ke dalam sebuah lembaga sosial, karena di anggap Hannah masih kecil dan di bawah umur, belum dapat dipenjarakan. Namun, pihak lembaga ternyata kewalahan menghadapi Hannah karena ulahnya. Seorang nenek yang bekerja sebagai tukang kebun mengikhlaskan diri untuk merawat Hannah di rumahnya. Tahun demi tahun nenek asuh itu merawat Hannah sampai dewasa.
Tapi pada suatu hari, nenek itu pun mati di tangan Hannah, dan membuat Hannah terusir dari lingkungan. Di rumah sakit, Hannah bertemu dengan Haidar, seorang suster yang kebetulan merawat Hannah. Dari pertemuan itulah mereka berdua rupanya saling cocok satu sama lain, sehingga Haidar berniat untuk merawatnya seperti saat ua merawat adiknya yang telah meninggal dunia karenanya.
Lee, seorang laki-laki dari Malaysia yang sedang menjalankan studi S2 di Surabaya mendadak menabrak Haidar. Pertemuan-pertemuan yang tak sengaja itu menyisakan seribu macam teka-teki yang harus di tuntaskan untuk mengupas cerita masa lalu mereka masing-masing sampai akhirnya terkuak dengan sendirinya.

Kali ini aku gak bikin sinopsis, karena blurb di belakan cover kayaknya udah ngebongkar semua isi dari novel ini.

Aku kecewa. Cukup kecewa membaca novel ini. Mungkin karena ekspektasi-ku terlalu tinggi untuk buku ini sehingga menimbulkan kekecewaan saat membacanya. Atau bisa juga karena tulisan “Penulis Novel Laris” di cover depan yang membuat aku tanpa ragu membaca buku ini. Jujur aja aku ngebayangin buku ini bisa (hampir) menyamai buku Charlie si Jenius Dungu – Daniel Keyes, ternyata jauh. Malah aku merasa buku ini seperti di tulis oleh tanpa persiapan sama sekali.


Saat membaca sinopsis di belakang cover, aku sangat tertarik.

Hannah gadis idiot yang telah membakar ibu kandungnya dan berkali-kali di tolak oleh lembaga sosial. Singkat cerita ia bertemu Haidar dan Haidar pun mengalami kecelakaan. Nah dari sinilah cerita Hanna terus berlanjut.

Ya Tuhan!!

Aku gak bisa jelasin gimana kecewanya aku baca buku ini. Banyak sekali yang terlalu “dibuat-buat” dalam novel ini, belum lagi kebetulan-kebetulan yang rasanya aneh banget. Tokoh A ketemu Tokoh B yang ternyata Ayah Tokoh si C. Terus ada tokoh pembantu yang mempertemukan Tokoh A dengan Tokoh D.

Ya terlalu banyak tokoh dan terlalu banyak cerita. Belum lagi kisah antar satu tokoh dengan tokoh lainnya sama. Gak ada bedanya. Palingan beda latar belakang doang.

Terus tentang penyakit idiot ini. Hadeuh .... capek bacanya. Teori dan teori yang di kasih, kayak di copy paste dari sumbernya.

Karakter tidak jelas, alur yang maju mundur (aku curiga alur mundur Cuma untuk menjelaskan secara kongkrit alur maju yang sedang di tulis), kebetulan yang terlalu banyak, tokoh yang terlalu banyak, bingung mau fokus ke siapa. Ini tokohnya Hannah atau orang lain sih? Baru kali ini aku baca novel tokoh utamanya harus saingan sama tokoh pembantu. Dan paling penting, ekspresi aku pas baca ini flat, kayak keripik kentang favoritku. Bedanya keripik kentang yang flat itu masih punya rasa yang enak *ngawur dan lupakan XD

Secara keseluruhan, aku gak bisa memberikan alasan yang tepat untuk kalian membaca buku ini. Tapi mungkin ada yang sudah membaca atau pengen membaca lalu membandingkan dengan review ku, itu lebih bagus. Cara pandang orang kan beda-beda.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam:


G+

3 komentar:

  1. Yang mnyesakkan dri bca buku adalah tulisanx best seller isinya biking puyeng huaa:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju!!!

      Seharusnya biarkan pembaca yang menilai buku tersebut layak gak disebut laris/best seller ....

      Hapus
    2. Setuju!!!

      Seharusnya biarkan pembaca yang menilai buku tersebut layak gak disebut laris/best seller ....

      Hapus

Berikan komentarmu disini

 
;