Senin, 10 Agustus 2015

[Review Buku] Take Off My Red Shoes by Nay Sharaya


Dapat tanda tangan dari penulisnya hehe


Take Off My Red Shoes
by Nay Sharaya
Penerbit PT Grasindo
Editor by Anin Patrajuangga
Cetakan pertama; Juni 2015; 234 Hlm
Desain cover by Dyndha
Rate 4 of 5


Atha
Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapapun.
Alia
Aku memiliki semuanya. Memliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?
Ares
Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.
Kegan
Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu. Sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabat

Atha dan Alia adalah gadis kembar yang tidak identik. Mereka tumbuh sebagai yatim piatu di sebuah panti asuhan. Mereka saling memiliki, saling berbagi bersama dan saling melindungi. Begitu banyak perbedaan Atha dan Alia, tapi hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap bersama. Hanya satu perbedaan yang paling mencolok pada diri Atha. Ia sangat menyukai warna merah. Bukan hanya sekedar menyukai, ia terobsesi dengan segala sesuatu berwarna merah, terutama sepatu bewarna merah.

Sampai suatu hari ada keluarga yang ingin mengadopsi Alia sebagai anak mereka, dengan alasan karena Ares anak laki-laki sulung mereka sangat menyukai Alia yang mengingatkannya pada Alm adiknya. Hanya Alia. Bagaimana dengan Atha? Entah karena desakan pihak panti atau karena Alia yang memaksa membawa saudaranya, akhirnya mereka mengadopsi Atha.

Seharusnya keluarga itu sempurna. Alia dan Ares saling menyayangi, Alia juga memiliki bakat sebagai penari balet. Namun kecelakaan telah merenggut impian Alia, dengan itu pula seluruh impian Ares, mama dan papanya juga ikut surut. Tapi ada yang berubah sejak saat itu. Ares dan Mama mulai menjauhi Atha. Bukan hanya menjauhi, mereka bersikap seolah Atha tidak pernah diinginkan di rumah ini. Dan semua itu membuat Atha makin tumbuh menjadi gadis yang sangat pandai menyembunyikan emosinya.


Semenjak itu tidak ada yang berubah. Ares makin menjauhi Atha dan makin menyayangi Alia. Kasih sayangnya kepada Alia sama besarnya kasih sayang kepada saudara kandungnya sendiri. Atha hanya sosok ketiga yang selalu menjadi teman di antara mereka, kadang Ares dan Alia dengan terang-terangan meninggalkan Atha sedangkan mereka berdua asik dengan menonton film, bermain bersama dan makan bersama. Tapi ada satu orang yang betah berada di samping Atha, Kegan. Tetangga mereka yang sekaligus sahabat baik Ares.

Kegan menyadari kalau perhatian Atha hanya tertuju pada Ares seorang. Semua perbuatan dan tingkah lakunya hanya ditujukan untuk menarik perhatian kakak laki-lakinya itu. Itu sesuatu yang tidak normal menurutnya, tapi ia abaikan perasaan itu. Lalu kemudian teman satu klub fotografi Kegan, mengirimi sebuah surat cinta untuk Atha. Ia cemburu tapi ia tahu Atha tidak pernah membalas surat itu. Belum lagi obsesi aneh Atha terhadap tim cheers. Sebenarnya ia tertarik pada sepatu yang mereka gunakan. Yaitu sepatu berwarna merah menyala.  

Segala cara Atha lakukan untuk masuk ke klub tersebut. Mulai dari latihan mati-matian sampai harus berangkat pagi-pagi buta demi latihan mereka yang ekstrak keras. Atha tidak sedikitpun mengeluh, meski itu semua harus menguras tenaga dan waktu tidurnya. Ia sama sekali tidak masalah, asalkan ia bisa memakai sepatu merah yang ia idam-idamkan itu.

Kegan menyadari keanehan itu. Mulai dari Atha yang berkelahi dengan seorang gadis di toko sepatu, mulai dari sikap dinginnya pada Kegan, surat-surat cinta yang tidak pernah ada, anggota cheers yang tiba-tiba mengundurkan diri dan perasaan Atha seseorang yang membututinya.

Ia sadar. Atha bukan sekedar gadis aneh. Ia lebih dari sekedar itu.

Dan ia ingin tahu apa yang sedang terjadi, walaupun Atha tidak pernah menatapnya dengan perasaan sedikitpun.

***

Sinopsis yang panjang ya? Haha lagi pengen nulis panjang-panjang aja, lagipula cerita ini susah kalau sinopsisnya aku persingkat. Tidak bisa menggambarkan konflik yang sebenarnya.

Cerita menarik sih. Mengambil tema dongeng Sepatu Merah karya Hans Christian Andersen. Dongeng yang jarang digunakan sebagai tema sebuah cerita, dan Mbak Nay berhasil membuat aku penasaran dengan dongeng Sepatu Merah. Biasanya aku paling ogah banget kalau nonton/baca film yang di angkat dari cerita dongeng, karena udah pasaran banget. Contoh aja cinderlela atau snow white. Di ceritakan dengan berbagai versi tapi dengan inti yang sama. Basi ...

Mbak Nay sudah menyiapkan kejutan di bagian tengah dan akhir cerita ini. Walaupun endingnya happy ending, tapi Mba Nay tetap membuat kita bertanya apa yang akan terjadi pada kisah Atha selanjutnya. Mba Nay memang mempersiapkan pembaca untuk tegang di bagian klimaks cerita ini untuk alur cerita Mba Nay berhasil membangun dongeng sepatu merah di diri Atha. Dari anak-anak sampai ia menjadi remaja semuanya memunculkan pertanyaan. Dan Mba Nya juga berhasil membentuk karakter Atha yang kuat dan khas dalam cerita ini. Atha paling berpengaruh dalam cerita ini, walau sebenarnya ada beberapa tokoh lain tapi mereka tenggelam oleh karakter Atha.

Sayangnya ...

Karakter Atha yang begitu kuat, membuat Alia, Ares dan Kegan sedikit tersingkirkan. Mereka hanya sebagai bumbu dalam konflik diri Atha. Satu lagi yang kurang, Mba Nay entah sengaja atau tidak tidak memberikan penjelasan sama sekali kenapa Atha bersikap demikian. Misalnya apa sih pemicu dia menyukai merah, atau beberapa flashback kejadian pemicu obsesi Atha itu. Dicerita ini Cuma dijelaskan apa yang tengah terjadi pada Atha.

Untuk Typo sebenarnya gk ada. Tapi ada satu atau dua  kalimat yang maknanya agak ganggu pas baca. Misalkan aja, 


Tapi bagi gadis kecil itu, sepatu itu adalah yang paling indah dari yang pernah dilihatnya. Hal 2


Agak ambigu banget kan maksudnya? Ada satu lagi sih, Cuma gak ke catat sama aku. Karena malas cari pulpen pas mau nandain bacaannya hehe. Kumat malasnya XD 




ada satu lagi yang agak nge-ganggu waktu baca. Tulisan di bagian back cover agak susah di baca karena warnanya hampir nyatu dengan warna back covernya. Jadi kelihatan sama-samar gitu.  Tapi tetap bisa kebaca kok hehe, maklum mata rabun jadi suka protes kalau udah agak kurang kelihatan tulisannya XD

Kejutannya..

Banyak kejutan.Semua hal yang Atha lakukan itu punya kejutan di belakang cerita. Misal aja surat cinta, itu paling mengejutkan. Dan beberapa adegan lain yang gak bisa aku sebutkan, ntar spoiler lagi hehe. Tapi kejutannya benar bikin terkejut. Seandainya Mba Nay mau membuat cerita ini agak horor, aku jamin pasti lebih kece. Kece banget malah ... aku jamin hehe

Karakter yang paling aku sukai itu, Kegan karena dia orang satu-satunya yang tulus peduli sama Atha apapun yang telah Atha lakukan, tapi pas mau ke bagian akhir aku jadi suka sama karakter Alia, gimana cara dia memaafkan Atha dan bagaimana dia menerima itu semua. Kalau aku jadi Alia, aku yakin hati aku gak akan sebesar itu untuk memaafkan saudara aku.  

Pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini. Kasih sayang tulus memang sangat diperlukan anak-anak, karena tanpa itu mereka akan tumbuh menjadi jiwa labil yang merusak mental mereka sendiri. Justru mengerikan sekali ketika kita melihat anak-anak sudah pandai menyembunyikan emosinya. Itu menjadi sinyal waspada bagi orang dewasa. Tolong mereka untuk melewati itu, bukan malah meninggalkannya dan berharap mereka akan jera dengan hukuman diam yang kita berikan. Karena apapun yang terbentuk di pribadi mereka, itu adalah hasil dari didikan kita. Jangan pernah salahkan mereka untuk itu.


“Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di manapun dia berada dan kamu nggak perlu merasa kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing.” Natasha (hal 32)

G+

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Sama-sama mba buat buku + ttd nya hehe :)

      Hapus
  2. anak memang membutuhkan banyak perhatian dari orang tuanya. apalagi masaalah seperti di atas itu. jika anak di biarkan saja, pasti akan mengahncurkan mental dan jiwa mereka.
    terima kasih reviewnya di atas. siippp....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali atas komentarnya ^^

      Hapus

Berikan komentarmu disini

 
;