Senin, 13 Juli 2015

[Review Buku] The Moon That Embraces The Sun (1) by Jung Eun-gwol

The Moon That Embraces The Sun (1)
Copyright © 2011 by Jung Eun-gwol
Penerbit Mizan
Diterjemahkan oleh Rizke Radhya Burhan
Desain Cover by Agung Wulandana
Cetakan ke-1; November 2012; 479 Hlm
Rate 4 or 5


Bagi Lee Hwon, Putra Mahkota Dinasti Joseon, hanya ada satu wanita dalam hidupnya. Yeon Woo, putri bangsawan yang anggun, menawan, yang selalu membawa harum bunga anggrek.

Namun, bagai matahari dan bulan, Hwon dan Yeon Woo tak bisa saling merengkuh di langit yang sama. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa Yeon Woo meninggal karena penyakit yang mematikan, dan Hwon pun terpaksa menyunting wanita lain untuk dijadikan Permaisuri.

Selama delapan tahun Hwon berduka, meskipun tetap menjalankan peran sebagai Raja dengan dikawal pendekar pedang yang setia, Woon. Hingga akhirnya, takdir menautkan Hwon dan Woon pada cinta segitiga terhadap Wol, cenayang misterius dengan kecantikan seperti rembulan. Anehnya, semakin Hwon dekat dengan Wol, semakin ia merindukan Yeon Woo.

Siapa cenayang itu sebenarnya? Benarkah ia semacam titisan yang membawa arwah Yeon Woo? Ataukah, ia hanya tukang tenung yang mencoba meretakan persahabatan Hwon dan pengawal setianya?

Lee Hwon adalah seorang Raja, bertemu dengan sosok wanita misterius yang kecantikannya setara dengan bulan. Seperti kecantikannya yang misterius, asal usul dan tingkahnya pun sama misterinya bagi sang Raja, hingga ia menaruh hati pada sosok tersebut. Bukan hanya jatuh hati, ia juga memberinya nama Wol, yang artinya adalah bulan.

Sang Raja berjanji akan menemui Wol lagi, tapi keesokan harinya sosok wanita itu menghilang tanpa jejak sama sekali.

Dan awal cerita ini pun kembali ke delapan tahun lalu, sebelum Lee Hwon menjadi Raja.

Lee Hwon berusia 15 tahun saat itu. Karena kesepian ia menjadi anak yang paling nakal seluruh istana. Ia selalu mencari onar dan melawan guru-gurunya, tapi tidak ada yang berani menegur atau menentangnya. Hingga akhirnya terpaksa guru-guru tersebut yang mengundurkan diri. Sampai suatu hari Hwon bertemu dengan guru barunya yang berusia 17 tahun, bernama Heo Yeom. Bukan hanya luar biasa tampan, tapi ia juga luar biasa pintar serta berpengetahuan luas. Hwon yang mulanya memandang remeh, menjadi hormat pada guru muda tersebut.

Kedetakan Hwon dan Yeom membuat mereka bertukar cerita. Hingga suatu hari Yeom menceritakan tentang adik perempuannya yang bernama Heo Yeon Woo. Hwon menjadi penasaran, karena bila Yeom luar biasa tampan, pasti adiknya juga sangat cantik. Tanpa terasa Hwon dan Yeon saling bertukar surat dan lama-kelamaan cinta dan kerinduan itu membuncah. Tapi status mereka yang berbeda membuat mereka tidak pernah berjumpa sedetikpun. Tapi Hwon dan Yeon yakin, bahwa suatu hari nanti cinta mereka akan saling mendekatkan mereka satu sama lain.

Dewa menjawab keinginan mereka. Yeon yang mendaftar kedalam pemilihan permaisuri terpilih menjadi permaisuri yang akan mendampingi calon raja selanjutnya, yaitu Hwon sendiri. Hwon girang bukan main. Ia sudah menyusun mimpi-mimpi indahnya bersama Yeon di istana. Tidak ada yang bisa merubah kebahagiaan itu. Bahkan Kasim Cha, pelayan setianya turut senang dengan kebahagian Hwon.

Tapi seperti bulan dan matahari yang tidak bisa bertemu dalam satu langit, Yeon di kabarkan meninggal di tengah-tengan pelantikannya menjadi permaisuri. Tidak ada yang lebih terpukul daripada Hwon. Lebih menyedihkannya lagi, ia tidak diperbolehkan melihat wajah Yeon dalam peti mati. Hingga sampai kapanpun ia tidak pernah sekalipun melihat sosok wanita yang ia cinta. Tidak ada yang bisa menggantikan Yeon di hatinya, hingga delapan tahun kemudian pun perasaannya tetap sama kepada Yeon. Dan delapan tahun pula ia tidak pernah menyentuh permaisuri pilihan Ibu Suri.

Tapi semua berubah.

Ketika Wol yang belakangan ini memenuhi pikiran Hwon muncul di kamarnya sebagai Cenayang Penyerap Bencana. Dan semakin Hwon mengenal Wol, ia semakin teringat kepada Yeon. Terutama wangi anggrek yang selalu menguar dari tubuh Wol, wangi yang sama dalam surat-surat Yeon yang disimpan oleh Hwon.

Di tengah kedekatan Hwon dan Wol, terkuak kebenaran tentang kematian Yeon. Ia curiga bahwa kematian Yeon adalah pembunuhan. Usaha demi usaha untuk menyelidikinya mengalami hambatan. Mulai dari catatan-catatan delapan tahun lalu menghilang secara misterius dan kepala kasim Raja terdahulu ditemukan gantung diri membuat dugaan Hwon bahwa ada dalang di balik kematian Yeon.

Seakan masalah belum kunjung selesai ...

Kim Jae Woon, pengawal setia Hwon sekaligus teman dekatnya menaruh hati pada Wol. Ia mengalami dilema yang berat antara perasaannya sebagai pria kepada Wol sekaligus sebagai sahabat Sang Raja.

Wol pun yang bersikap misterius selalu saja menghindar pertanyaan dari Raja. Ia tetap kukuh dengan pernyataan bahwa ia bukanlah siapa-siapa, hanya Cenanyang yang di tugaskan untuk menyembuhkan Raja dari penyakit.

Tapi benarkah itu?

***


Huh!

Bukan ceritanya aja yang penuh dilema. Pas baca novel ini pun bikin dilema akut. Bayangin aja, aku membutuhkan seminggu menyelesaikan bacaan ini. Saat-saat bosan aku selingi dengan membaca novel lain, yang anehnya lebih duluan aku selesaikan daripada novel ini. Yang bikin dilema saat baca novel itu ada pada diri aku sendiri yang ingin terus melajutkan membaca novel ini atau menghentikan novel ini.

Kok bisa?

Di satu sisi, cerita novel ini menarik. Aku suka sekali penulisnya menceritakan kisah cinta antara dua anak manusia yang tidak pernah bertemu tapi rasa cinta mereka abadi sampai sang gadis lebih duluan meninggalkannya. Dan bagaimana kisah ini terkuak bahwa ada persekongkolan di antara para orang-orang di istana terhadap kematian Yeon yang penuh misteri dan bagaimana kesetian Jae Woon di uji. Semua inti cerita ini bikin aku susah berhenti buat membacanya. Membaca konflik yang diciptakan penulis serasa sedang membawa kita membaca novel detektif. Walaupun gak mirip, tapi ketegangannya hampir menyerupai.

Karakter Wol yang penuh misteri disini menjadi kunci, siapakah sebenarnya dia. Di antara beberapa dialog, mengarahkan pembaca kalau Wol addalah Yeon. Tapi Yeon sudah meninggal dan di kubur. Lalu siapa Wol. Pertanyaan itu terus mengusik Hwon dan menjadi inti dari cerita ini. Sepele memang kelihatannya, tapi aku suka cara penulis membuat pembaca terus membaca novel ini. Walau aku sendiri hampir gak kuat bacanya hehe

Tapi di sisi lain. Di novel ini terlalu banyak percakapan yang aku rasa gak perlu. Terlalu banyak basa basinya dan banyak penjelesan yang berkaitan dengan istana. Misalnya aja penjelasan tentang klan-klan yang ada di istana, perbedaan kelompok pelajar dan pegawai pemerintahan, penjelasan tentang aturan-aturan kerajaan, semuanya di jabarkan dengan detail. YANG SAYANGNYA menjadi kelemahan di mata aku. Bikin ngantuk ... serius. Baru kali ini aku baca novel mengantuk, makanya gak kelar-kelar bacanya. Belum lagi banyak istilah-istilah korea yang namanya hampir mirip. Itu bikin puyeng juga, aku musti bolak-balik halaman untuk melihatnya lagi.

Dan menyedihkannya lagi, novel  pertama ini ada sambungannya ke nomor dua yang tebalnya gak kalah dari yang pertama. Semoga kuat mata hihi ...

Alur yang digunakan maju-mundur. Karena ada beberapa bagian yang menceritakan masa lalu sang tokoh. Mungkin itu juga yang menjadi penyebab tebalnya buku ini, karena bukan hanya masa lalu Hwon saja yang diceritakan tapi beberapa tokoh lain pun ikut dijabarkan.

Covernya aku suka sekali. Sederhana tapi benar-benar pas menggambarkan isinya. Hwon yang notabene-nya adalah Raja, dilambangkan dengan matahari. Huruf Hangul-nya di tulis dengan tinta timbul hingga menonjol di antara warna cover itu sendiri.

Secara keseluruhan, novel ini oke banget. Terlepas dari beberapa poin yang bikin aku hampir nyerah baca buku ini. Serasa buku ini gak akan habis-habis walaupun tiap detik aku baca. Tapi anehnya, aku tetap bertahan haha.

Congratz ....


Akhir kata ...


Selamat membaca


psstt .... Nantikan Review novel lanjutannya ya The Moon That Embraces the Sun (2) ya ^^



G+

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentarmu disini

 
;