Selasa, 30 Juni 2015

[Review Buku] Wajah Sang Pembunuh by Sidney Sheldon

The Naked Face
by Sidney Sheldon
Copyright © 1970 by Sidney Sheldon
Penerbit Gramedia
Alih bahasa by Anton Adiwiyoto
Cetakan ke-13; Juli 2002; 328 hlm
Rate 5 of 5


Judd Stevens adalah seorang psikoanalis yang dihadapkan pada kasus paling gawat dalam hidupnya.
Jika dia tidak berhasil mengetahui jalan pikiran seorang pembunuh, dia akan ditangkap dengan tuduhan membunuh, atau dirinya sendiri akan terbunuh....
Dua orang yang paling dekat dengan Dr. Stevens tewas terbunuh. Mungkinkah pembunuhnya salah seorang pasiennya? Seseorang yang kacau karena mentalnya tak kuat menahan beban masalah hidupnya? Seorang penderita neurosis? Seorang gila? Sebelum si pembunuh beraksi lagi, Judd Stevens harus bisa menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi gejolak-gejolak emosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengerian, dambaaan dan nafsunya, dan dengan demikian menampilkan....
WAJAH SANG PEMBUNUH

John Hanson dibunuh dengan cara ditikam di punggungnya saat hendak pulang kerumah untuk merayakan kesembuhannya. Carol Robert di bunuh dengan cara mengerikan di kantor Dokter Judd Stevens, Psikionalisis terkemuka di Amerika. Tidak ada motif yang mengaitkan antara pembunuhan satu dan yang lainnya. Tapi satu hal, mereka berdua dekat dengan Judd Stevens. John adalah pasiennya, sedangkan Carol adalah sekretarisnya yang ia selamatkan dari tempat pelacuran. Sehingga penyelidikan pun berlanjut ke kantor dokter Stevens.

“Tak seorang pun dilahirkan sebagai pelacur,” Kata Judd Hal 89

Letnan Andrew McGreavy yang pernah memiliki masa lalu dengan dokter Stevens mencurigai dalang di balik pembunuhan ini adalah dokter Stevens sendiri. Detektif Angeli, partner Det. McGreavy lebih lunak dan ramah kepada dokter Stevens sehingga sekali-kali menimbulkan selisih antara Det. Angeli dan partnernya. Karena tidak adanya bukti yang kuat, kedua detektif itu pun meninggalkan dokter Stevens dan melakukan penyelidikan ke arah lain.

Rupanya usaha pembunuhan tidak berhenti pada Carol.

Saat Judd sedang berjalan di jalan sepi, sebuah mobil tanpa menghidupkan lampu depan menabraknya. Tapi Det. McGreavy tidak percaya begitu saja. Ia mengemukanan analisis yang menyatakan bahwa Judd sengaja berjalan sembarangan agak di tabrak mobil.

 Judd Frustasi. Ditengah perasaan yang tertekan ia mencoba menyusun analisis tentang peristiwa semua ini. Dan akhirnya ia tahu bahwa hanyalah dia tujuan utama pembunuhan ini, sedangkan Jonh Hanson dan Carol Robert adalah korban yang tidak disengaja. Dan pembunuhnya masih akan mengincar dirinya lagi.

Judd benar. Ketika ia pulang ke kantornya, ia mendapati ada dua orang penyusup yang masuk. Lagi-lagi Det. McGreavy tidak percaya. Ia kukuh mengatakan semua hanya rekayasa Judd agar terhindar dari kecurigaan polisi kepadanya. Begitu seterusnya, ketika usaha pembunuhan terus berlanjut tapi tidak satupun bisa meyakinkan Det. McGreavy. Judd curiga ia ingin membalas dendam akibat kematian partnernya beberapa tahun lalu.

Lama-lama Judd percaya bahwa dirinya menderita penyakit paranoid yang menyebabkan ia berhalusinasi tentang semua usaha pembunuhan atas dirinya.

Ia putus asa.

Akhirnya Judd menyewa seorang detektif swasta bernama Norman Z. Moody. Baru sebentar Moody bekerja ia sudah menemukan bahwa ada pembunuh yang nyata sedang mengincar Judd. Dan judd bersyukur akhirnya ada orang yang mempercayainya dan ia senang mengetahui dirinya tidak menderita paranoid.

“Kita tahu bahwa seseorang ingin sekali membunuh Anda, Dokter Stevens.” Hal 154

Rasa percaya Judd mengetahui bahwa ia tidak gila, membuat ia terlalu semangat. Tanpa sengaja ia menceritakan perihal Moody kepada orang yang ia percaya.

Fatal..

Karena Moody ditemukan tergantung di pengait daging.

Lagi-lagi kecurigaan mengarah ke Judd. Det. McGreavy makin mencurigai Judd sebagai dalang ini semua membuat ia makin frustasi dan kehilangan semangatnya. Dengan tersisa kesempatan yang ada, ia mencoba mencari tahu sendiri alasan mengapa ia di incar pembunuh dan siapa orang tersebut. Hingga ia berkeliling antara keluarga pasiennya yang ia curigai mempunyai dendam padanya.

Dan sampailah ia pada kenyataan yang tidak bisa ia bayangkan. Pembunuhnya menampakan wajah aslinya di depan Judd. Kini Judd tinggal menunggu ajalnya tiba, ketika sebuah pistol mengacung di depan hidungnya.

***

Buku ini pertama kali aku baca ketika SMP. Bacaannya lumayan berat buat aku mengerti saat itu, makanya aku mengulang-ulang membaca buku ini hingga aku bisa menceritakan ulang kisah di dalamnya tanpa perlu melihat buku. Tergerak jemari ini buat me-review novel dewasa dan thriller pertama yang aku baca hehe dan aku langsung jatuh cinta sama buku ini ketika pertama kali menamatkan ceritanya.

Amazing ...

Sidney Sheldon emang penulis yang paling keren. Dan dalam novel ini ia menampilkan kepiawaiannya untuk membuat pembaca tidak bisa menghentikan membaca buku ini. Bahkan ia selalu menyiapkan kejutan-kejutan di akhir bab dengan ketegangan luar biasa.

Konflik yang disajikan naik turun. Di bab pertama naik sehingga menyebabkan pembaca ikut merasa deg deg kan. Tapi di bab selanjutnya akan mengalir ringan dengan konflik-konflik ringan seperti koflik yang terjadi antara Judd dan Det. McGreavy. Ada juga konflik ringan tentang percintaan Judd dengan seorang pasiennya bernama Anne Black. Kegundahan hati judd di uji, bukan hanya karena Anne adalah pasiennya, Anne juga sudah bersuami. Peran Anne Black mungkin sedikit sekali disini. Tapi ia berpengaruh besar terhadap cerita. Kalau tidak ada dia, tidak akan ada masalah ini (eh menjurus spoiler gak nie hehe. Maaf... Maaf ... *Bow)

Konflik utama yang bikin jantung mau copot sekaligus mengerikan terdapat di bab terakhir. Di susun secara rapi dan menegangkan. Sidney membawa kita mendalami dulu karakter penjahatnya, dan membuat kita dapat membayangkan karakter penjahat itu secara apik. Sehingga hanya dengan membaca karakternya saja, bisa membuat kita merinding dan takut kepadanya. Aku berdoa semoga tidak pernah berurusan dengan orang seperti itu.

Karena ini novel dewasa, ada kalimat-kalimat khas dewasa. Tapi bukan menjurus ke seks. Melainkan lebih ke arah kasus. Jadi aman buat di baca remaja. Sudut pandang yang dipakai pun sudut pandang penulis yang lebih fokus ke Judd. Jadi kita sebenarnya ikut di ajak untuk mendalami pemikiran Judd yang di dalam novel ini berperan sebagai detektif untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.

Karena sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang penulis yang difokuskan pada Judd, maka banyak banget pengetahuan tentang sifat-sifat manusia dan penyakit emosional manusia. Semua dijelaskan secara alami banget, gak mendikte seperti di buku.

Salah satunya adalah ...

“Gila hanyalah istilah umum. Tidak memiliki arti medis. Yang disebut kewarasan hanyalah kemampuan otak menyesuaikan diri dengan realitas.” Hal 217

Tapi yang paling menjadi favorit aku adalah yang ini

“Kita semua memakai topeng, Angeli. Sejak kita meninggalkan masa kanak-kanak, kita sudah diajar untuk menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya. Kita sudah di ajar untuk menutupi kebencian dan ketakutan kita,” Suara Judd penuh wibawa, Hal 220

Dan masih banyak istilah dalam psikionalisis dalam buku ini. Tapi tenang aja, isinya tetap menarik buat di baca. Dan setelah membaca novel ini, malah membuat aku tertarik mempelajari pikiran dan perilaku manusia. Rasanya asik menganalisis seseorang dari sifatnya.

Karena buku ini gak ada celanya sama sekali (menurut aku) gak ragu memberikan rate 5 of 5. Selain itu penulis Sidney Sheldon penulis fenomenal, walaupun beliau sudah meninggal tapi buku-bukunya tetap terus di cetak demi memenuhi keinginan konsumen. Harga novel Sidney Sheldon pun terbilang mahal. Buku ini bisa mencapai Rp 80.000,- padahal ukuran novel ini sama dengan ukuran komik. Bedanya lebih tebal.

Jadi walaupun aku pecinta Sidney Sheldon, koleksiku sedikit sekali. Aku kebayakan pinjam di perpustakaan kota.

Sekian dulu reviewnya. Semoga bermanfaat


Akhir kata...


Selamat Membaca

G+

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentarmu disini

 
;